Tampilkan postingan dengan label Renungan 2010. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Renungan 2010. Tampilkan semua postingan

Rabu, 01 Agustus 2012

Kolose 3 : 23-25



BERBUATLAH DENGAN SEGENAP HATIMU 
MAKA
 TUHAN AKAN MEMBERIKAN UPAH

Dalam hukum positif bahwa suatu perkara dapat dihukum adalah jika sudah dimulainya suatu perbuatan, misalnya seorang pencuri sepeda sudah dikategorikan sebagai pencuri apabila perbuatannya sudah dimulai dengan bergeraknya sepeda dari tempat asalnya berpindah ke tempat lain. Suatu perbuatan pasti menimbulkan akibatnya. Jika seseorang melakukan perbuatan negatif maka akibatnya juga negatif sedangkan jika melakukan perbuatan positif maka akibatnya juga positif. Dalam nas ini kita diminta untuk melakukan setiap perbuatan dengan segenap hati yang dilakukan untuk Tuhan bukan untuk manusia (ayat 23). Dengan perkataan lain ini adalah perbuatan positif, artinya apa pun perbuatan kita harus dilakukan yang berkenan dihadapan Tuhan.

Kalau kita mau mengetahui lebih dalam lagi atas akibat perbuatan yang di lakukan dengan sepenuh hati maka kita akan mendapatkan upahnya dari Tuhan, bukan dari manusia (ayat 24). Bagaimana  Bentuk upahnya tidak diperinci oleh nas ini, tetapi dapat diartikan bahwa bukan semata – mata materi kebutuhan jasmani tetapi lebih dari daripada itu, karunia berkat yang berkelimpahan dari Tuhan. Hak mutlak Tuhan untuk memberikan apa yang dibutuhkan oleh kita bukan apa yang kita minta bahkan upah sorgawi yang kita dapatkan dari Tuhan.

Tuhan tidak hanya memberikan upah tetapi juga memberikan hukuman kepada barangsiapa berbuat kesalahan dan dia akan menanggung kesalahan itu dengan segala akibatnya. Hal ini ditegaskan dalam ayat (25) tanpa memandang siapapun dia, tidak ada perlakuan khusus atau istimewah seperti apa yang dilakukan oleh manusia cendrung pilih kasih, membedakan status, tidak bersikap adil dalam menyikapi kesalahan orang lain. 
 

Untuk itu perlu kiranya kita memperbaiki diri dengan bercermin pada nas ini, tidak ada perbuatan yang tidak beresiko, berbuatlah positif. Perbuatan kita harus dibawa pengendalian diri dan menjadi pedoman kita untuk selalu ingat akan firman Tuhan. Kita harus bersabar dan harus meneguhkan hati karena kedatangan Tuhan sudah dekat (1 Petrus 5 ayat 8). Amin (KAP)

Minggu, 04 September 2011

Imamat 19 : 18



Imamat 19 : 18

KASIHILAH SESAMU MANUSIA SEPERTI DIRIMU SENDIRI

Tuhan Yesus mengajarkan kita untuk tidak menuntut balas dan menaruh dendam terhadap sesama manusia, walau sebesar apapun perkaranya. Sungguh berat untuk menerima pengajarannya, bahkan lebih tegas lagi dalam nats ini untuk bersikap mangasihi sesama manusia seperti diri sendiri. Banyak orang yang saling mengasihi tetapi juga tidak sedikit orang yang mengabaikannya.

Mengasihi yang dimaksud dalam ayat 18 berkaitan dengan perasaan cinta kasih kepada orang lain, tidak terbatas pada saudara sekandung , orang tua, anak atau teman. Tetapi lebih dari pada itu Tuhan menghendaki kita mengasihi siapapun dia orangnya, yang penting sesama manusia. Salah satu kelemahan kita sulit menjalankannya, karena dipengaruhi oleh pikiran yang menghitung untung atau rugi dalam mengasihi. Padahal kita harus mampu berbuat untuk orang lain bukan karena kita memiliki lebih banyak atau lebih mampu melainkan karena memang kita saling membutuhkan satu sama lain, apalagi dalam kehidupan bermasyarakat, tentu harus mampu menjaga keseimbangan.


Ada banyak kasus pembunuhan yang diputuskan pengadilan tidak dapat diterima oleh keluarga korban karena merasa putusan yang lakukan oleh hakim tidak adil sehingga dendam dari keluarga yang ditinggalkan terhadap terdakwa sangatlah membara, dirinya dikuasai oleh iblis sehingga marahnya tidak terkendalikan, nyawa harus dibalas dengan nyawa demikianlah pernyataan sebagaian keluarga. Kita juga banyak menghadapi pergumulan dan ketidakadilan dalam kehidupan ini, namun kita harus setia akan Tuhan tanpa alasan diperlakukan tidak adil karena yang adil hanyalah Tuhan. Hadapilah semua dengan senyum dan tidak bercela dihadapan Tuhan. Amin(KAP)

Senin, 18 Juli 2011

2 Kolose 3 : 12-17



MENJADI PILIHAN ALLAH


Untuk menjadi manusia pilihan Allah adalah harus mampu melakukan belas kasihan, kemurahan, kerendahan hati, kelemahlembutan dan kesabaran (ayat 12). Tentunya untuk melakukan ini tidak semudah membalikkan telapak tangan, banyak tantangan yang dihadapi. Tidak sedikit yang gagal dan tidak sedikit pula yang mampu melakukannya. Apalagi di jaman tehnologi sekarang serba instant, semuanya dipermudah sampai dengan urusan ibadah juga direkayasa supaya gampang dan di gemari oleh orang banyak, bahkan yang lebih parahnya lagi sampai adanya bisnis rohani. Pengendalian diri sangat penting diperhatikan. Kita harus sabar terhadap sesama dan mengampuni orang lain, sama seperti Tuhan telah mengampuni kita (ayat 13). Dan di atas semua itu kenakanlah kasih, sebagai pengikat yang mempersatukan dan menyempurnakan (ayat 14).

Sebagai aplikasi dalam kehidupan tentunya ada beberapa hal perlu kita perhatikan yaitu : 1.) Hendaklah damai sejahtera Kristus memerintah dalam setiap langkah kita, karena untuk itulah kita telah dipanggil menjadi satu tubuh 2.) Hendaklah perkataan Kristus diam dengan segala kekayaannya, sehingga kita dengan segala hikmat mengajar dan menegur seorang akan yang lain dan sambil menyanyikan mazmur, dan puji – pujian dan nyanyian rohani. 3.) dan segala sesuatu yang kita lakukan dengan perkataan atau perbuatan semuanya harus dilakukan dalam nama Tuhan Yesus, sambil selalu mengucap syukur kepada Allah di dalam hati kita (ayat 15 – 17).  


Berdasarkan nats ini untuk menjadi manusia baru pilihan Allah maka kita harus mematikan segala sesuatu yang duniawi seperti percabulan, kenajisan, hawa nafsu, nafsu jahat dan keserakahan yang akan mendatangkan murka Allah. Buanglah semuanyanya yaitu marah, geram, kejahatan, ftnah dan kata – kata kotor yang keluar dari mulut kita. Dengan demikian manusia lama telah kita tinggalkan dan kita terus menerus diperbaharui untuk memperoleh pengetahuan yang benar menurut Firman Allah. Amin  (KAP)

Sabtu, 16 Oktober 2010

Timotius 5 : 1-4

Timotius 5 : 1-4


          TEGORLAH  SAUDARA SEIMAN DENGAN KEMURNIAN   

         
          Dalam hidup kita tentunya tidak lepas dari hubungan interaksi dengan orang – orang yang ada di sekitar kita, baik itu orang tua, saudara maupun para sahabat. Hubungan baik akan tercipta jika semua pihak bisa saling menghargai dan bisa menempatkan posisinya. Perselisihan akan timbul jika tidak mau saling mengerti satu sama lain, bahkan tidak jarang menjadi perkara bahkan sampai ke pengadilan. Kalau demikian tentunya tidak akan ada perdamaian, apalagi bagi yang dikalahkan dalam putusan pengadilan, yang kalah akan berusaha naik banding demikian seterusnya. Untuk itu dalam nas ini Tuhan mengajarkan kita untuk bersikap dan bertingkah laku, bagaimana yang harus dilakukan ? Janganlah engkau keras terhadap orang yang tua, melainkan tegorlah dia sebagai bapa. Tegorlah orang – orang muda sebagai saudaramu, perempuan – perempuan tua sebagai ibu dan perempuan – perempuan muda sebagai adikmu dengan penuh kemurnian (ayat 1-2).

          Orang tua yang dimaksud tidak terbatas kepada orang tua kandung, melainkan setiap orang yang lebih tua dari kita maka wajib diperlakukan sebagai bapa, jika ada juga kesalahan orang tua maafkanlah dengan kasih, bukan berarti orang tua tidak ada kesalahan dengan yang muda. Demikian pula sikap kita terhadap orang lebih muda, perempuan tua dan perempuan muda harus diperlakukan sebagai saudara. Betapa indahnya jika semua orang melakukannya, tentu tidak akan ada lagi perpecahan dan perbuatan dosa lainnya yang dapat mengakibatkan hancurnya persaudaraan. Tidak ada orang mau di hina, direndahkan apalagi sampai disakiti secara fisik. Sungguh pengajaran Tuhan untuk berdamai manusia satu sama lain telah kita baca pada nas ini, dapatkah kita melakukannya ? dan menjadi teladan bagi orang lain. Marilah kita menjadi saudara seiman yang rukun………….. Salam damai…………  Amin. (KAP)